Berawal dari Perbedaan Pandangan tentang cara atau siasat dakwah yang dilakukan oleh Para Wali, Sunan Kalijaga mencoba melakukan dakwah dengan pendekatan seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saat mendakwahkan risalahnya kepada masyarakat jahiliyah yang masih tersesat. Beliau dengan santun menanamkan akidah tauhid melalui cara dakwah yang bijak dan bertahap. Dibiarkannya dahulu orang-oarng Badui membayangkan Tuhan menurut pikiran mereka yang sederhana. Setelah belasan tahun, barulah keesaan Allah ditampilkan dengan lugas dan murni. Bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakan. Bahwa Allah tidak sama dengan mahluk-Nya.
Artinya, adat lama yang bisa dikawinkan dengan agama, tidak perlu ditentang. Adat asli dibiarkan berjalan, tetapi isinya yang berlawanan dengan Islam diubah pelan-pelan.
Perbedaan pandangan ini tampak jelas pada waktu mereka (para wali) membangun Mesjid Agung Demak. Para santri masing-masing kelompok berupaya untuk menguasai pelaksanaan pembangunan Masjid Demak agar diakui sebagai bikinan kelompok mereka. Akibatnya, masjid besar itu tidak dapat berdiri dengan kokoh dan nyaris roboh.
Sunan Kalijaga cepat bertindak. Ia mengumpulkan tatal, serpihan-serpihan kayu dari kedua belah pihak, lalu disusunnya menjadi tiang penyangga pokok yang dinamakan soko guru. Dan untuk mengikatnya lebih kuat Sunan Kalijaga meminta semua wali dari masing-masing aliran untuk bekerjasama dalam suasana penuh persaudaraan. Hasilnya Soko guru yang terbuat dari susunan tatal atau pecahan kayu kecil-kecil itu bisa menegakkan bangunan masjid dengan sempurna dan menjadi simbol persatuan umat yang erat. Berpadu dalam berbeda, itulah yang diharapkan.
Kini, setelah masjid berdiri dengan megah, timbul persoalan lain yaitu, mengenai upacara pembukaannya. Ada kelompok (sunan giri) yang berkeinginan, peresmian masjid harus dilakukan dengan shalat berjama’ah beramai-ramai dan khusus untuk umat yang sudah menjalankan ibadah saja. Kelompok lain (sunan kalijaga) menetapkan upacara yang berbeda. Akan diadakan pergelaran wayang kulit di halaman masjid.
Kelompok Sunan Giri menolak keras. Wayang kulit, yang menggambarkan sosok-sosok manusia, adalah haram. Maka untuk itu, Sunan Kalijaga tidak kehabisan akal. Ia membuat tokoh-tokoh pewayangan dalam bentuk yang serba ganjil (baca:aneh). Tangannya panjang-panjang, mukanya pipih, dan hidungnya tidak wajar. Ia mengemukakan dalih, bahwa bentuk-bentuk seperti itu jelas bukan sosok manusia. Jadi tidak haram.
Akhirnya disepakati. Upacara peresmian Masjid Demak didahului dengan shalat jama’ah bagi umat Islam yang sudah sempurnah menjalankan ibadah. Barulah sesudah itu dipukul Gong dan ditabuh gamelan guna memanggil seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan kepercayaan serta agama mereka, agar berduyun-duyun memasuki halaman masjid. Mereka yang berdatangan harus melewati pintu gerbang yang disebut Gapura. Gapura berasal dari sifat Tuhan yang ghafura artinya, maha pengampun. Di halaman masjid itulah dipergelarkan pertunjukan wayang kulit yang berisi dakwah. Dalangnya adalah Sunan Kalijaga sendiri.
Maka semua orang menjadi lega dan bersuka cita dalam persaudaraan dan persatuan umat. Lalu, untuk mengenang Sunan Giri yang telah diangkat sebagai mufti Tanah Jawa, ke dalam tokoh wayang Batara Guru dijelmakan Sang Hyang Girinata. Artinya, Sunan Girilah yang menata pengukiran wayang itu, batas-batas mana yang boleh dan yang tidak boleh, agar tidak melanggar syariat lagi, sampai terwujudlah wayang kulit Islam yang bentuknya seperti itu.

No comments:
Post a Comment