“ Cintailah kekasihmu secara wajar saja, siapa tahu suatu ketika ia menjadi seterumu. Dan bencilah seterumu secara wajar juga, siapa tahu suatu saat ia menjadi kekasihmu”. Demikianlah orang bijak selalu berkata. Cinta dan benci adalah naluri yang bersemayam di dalam lubuk hati setiap insan manusia.
Naluri atau Insting adalah salah satu factor alam smesta ini yang terus berjalan. Jadi tidak mungkin kita memaksakan atau mematikan fungsi naluri ini dalam hidup kita dan tidak pula kita bersikap masa bodoh dan berpura-pura tidak tahu ketika kita membicarakan masalah ini.
Hati atau Kalbu tempat bersemayamnya cinta dan benci adalah, sesuatu yang selalu berubah-ubah (kalbu artinya bolak balik), kadang kala ke kiri dan kadangkala ke kanan, sekali dekat dan sekali jauh jaraknya. Apalagi kita tidak punya pegangan hidup dan tolok ukur yang pasti. Hati selalu menciptakan jarak.
Ketika dua orang yang saling benci sedang berada dalam situasi kemarahan (bertengkar), jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi." Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?.Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Jadi ketika Anda sedang dilanda kemarahan (benci), janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Diam itu emas dan biarkan waktu yang akan membantu Anda. Banyak petunjuk agama yang mengingatkan kita agar selalu menimbang-nimbang segala apa yang akan kita ucapkan, seperti peringatan Al-Qur’an: ”Tidak ada suatu ucapan yang diucapkan seseorang malainkan ada di dekat (pengucap) nya (malaikat) pengawas yang selalu hadir (mencatat ucapan-ucapan tersebut) ( QS: Al-QAF : 18 )
Demikianlah Cinta dan Benci mempermainkam manusia. Ketika bercinta kita merasa memiliki segala yang ”ada” termasuk persahabatan dan ketika cintanya putus , ia merasa ”tidak ada” dan tanpa persahabatan. Allah berfirman : ”Para sahabat akrab, pada hari kemudian saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa ( QS: AZ-ZUKHRUF: 67 ). Jadi tidak ada persahabatan yang kekal, apalagi dalam dunia kelezatan yang penuh dengan kepentingan kecuali, orang-orang yang bertakwa yang memiliki pegangan hidup dan tolok ukur yang bersumber dari Allah yang Mahakekal.

No comments:
Post a Comment